Kemenko PMK: Kasus Wabah Menular Pada Hewan Masih Terjadi di Indonesia

05 September 2018  |  15:22 WIB
Vaksinasi, sterilisasi, dan kontrol populasi hewan pembawa rabies yang dilakukan Pemkot Denpasar bersama Yayasan Bali Animal Welfare Association, Rabu (23/5/2018).-JIBI/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, JAKARTA -- Pandemi atau wabah penyakit menular untuk manusia di Indonesia diklaim sudah tidak ada sejak tiga tahun lalu. 

Namun, wabah menular terhadap hewan masih ditemui meski jumlahnya sudah tidak terlalu signifikan.

Hal tersebut disampaikan Asisten Deputi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Naahli Kelsum saat ditemui usai pertemuan Koordinasi dan Penyusunan Rencana Kerja Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Berpotensi Pandemi di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Rabu (5/9/2018).

"Artinya, kalaupun ada ke depannya, berarti kementerian/lembaga terkait sudah siap dibandingkan pada 2006 yang kita tidak tahu ada pandemi [flu burung]," tuturnya.

Naahli mengatakan potensi terjadinya pandemi akan selalu ada. Namun, kemungkinan untuk pencegahan sekaligus penanganannya semakin bagus.

"Contohnya saja, kejadian rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Selatan (Sumsel). Itu kasus-kasus rabies masih tinggi, kemudian antraks," jelasnya.

Namun, meski secara lokal wabah penyakit tersebut masih ditemukan tapi kejadiannya hanya terjadinya di beberapa provinsi.

"Artinya kita harus siap, supaya wabah penyakit tersebut jangan sampai meluas, yang tadinya [skala wabah penyakitnya] besar bagaimana caranya agar menjadi kecil," tandas Naahli.