Hari Perdamaian Internasional Momentum Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

22 September 2018  |  15:43 WIB
Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Hari Perdamaian Internasional tahun ini dinilai dapat menjadi pengingat untuk tetap menjaga perdamaian menjelang Tahun Politik.
 
Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Nyoman Shuida mengatakan Hari Perdamaian Internasional yang jatuh setiap tanggal 21 September merupakan momentum tepat untuk menjaga budaya damai. 
 
Terutama, menjelang masa kampanye Pileg 2019 dan Pilpres 2019, yang mulai berlangsung pada Minggu (23/9/2018).
 
"Menjelang Tahun Politik 2019, saya mengajak kita semua untuk selalu menjaga iklim persatuan sebagai satu bangsa. Kita memiliki keberagaman budaya kepercayaan dan cara pandang, itu semua adalah aset bangsa yang mampu memperkuat kita sebagai bangsa, maka sebuah keharusan bagi siapapun untuk menjadi teladan dalam menyemai nilai-nilai toleransi," paparnya, Jumat (21/9).


 
Nyoman mengungkapkan salah satu kegiatan hasil kerja sama Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dan Paritas Institut dalam membangun budaya toleran adalah melalui lokakarya Penggerak Perdamaian di berbagai daerah Indonesia.
 
Menko PMK merupakan koordinator nasional GNRM. 
 
"Banyak pemuda yang antusias untuk membangun dialog dan memupuk toleransi. Di Purwokerto, para pemuda lintas iman saling berkunjung ke berbagai tempat ibadah dan pesantren dengan misi membangun keharmonisan dan perdamaian antar umat beragama. Semangat mereka perlu ditiru," jelasnya.
 
Kemenko PMK menekankan bahwa NKRI dan Pancasila adalah sesuatu yang final bagi bangsa Indonesia. Budaya damai NKRI pun mesti dijaga agar tidak dirusak oleh bangsanya sendiri dengan praktik intoleran yang sarat kekerasan.
 
Oleh karena itu, tenggang rasa dan menahan diri untuk menyakiti orang lain sangat penting. 
 
"Mengamalkan Pancasila dimulai dari hal yang sederhana, yaitu biasakan untuk bantu, senyum, dan sapa tanpa memandang perbedaan identitas ataupun pandangan politik," tambah Nyoman.