Museum Tetap Harus Profit Supaya Dapat Tarik Generasi Milenial

10 Oktober 2018  |  16:35 WIB

Jakarta (10/10) – Museum Nasional, Museum Sejarah Jakarta, Museum Keramik dan berbagai museum lainnya adalah salah satu destinasi wisata yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Tetapi di tengah perkembangan teknologi digital saat ini, jumlah kunjungan ke museum-museum tersebut masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan kebiasaan generasi milenial yang seringkali berkunjung ke pusat perbelanjaan.

“Pola pikir yang menyatakan museum sebagai lembaga non-profit harus diubah menjadi not for profit. Museum saat ini harus memperoleh pemasukan supaya dapat membiayai kegiatan operasionalnya sehingga mampu terus menyesuaikan dengan perkembangan era digital saat ini” ujar Indroyono Soesilo yang menjadi keynote speaker ketika ditemui dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Museum Untuk Generasi Milenial di Jakarta.

Menurut Indroyono, museum-museum di Indonesia saat ini harus memperhatikan generasi milenial yang saat ini menjadi salah satu potential market untuk sektor pariwisata. Generasi milenial ini memiliki minat untuk melakukan eksplorasi dan travelling dan mereka juga pintar, memiliki jaringan, dan juga aktif menggunakan media sosial.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini mengungkapkan sebenarnya beberapa museum di Indonesia sudah memberikan contoh perubahan supaya dapat menarik minat generasi milenial.

Salah satunya Museum Modern and Contemporary Art of Nusantara (Macan) yang galerinya sangat menarik generasi milenial dan bahkan digunakan untuk melakukan selfie hingga harus antre. Padahal untuk tiketnya tergolong mahal yaitu Rp. 100 ribu. Ada juga Museum Angkut di Malang yang sangat menarik kunjungan milenial.

“Maka dari itu supaya generasi milenial dapat ‘demam’ museum penggunaan media sosial menjadi sebuah di era digital saat ini” ujar Indroyono.

Berbagai museum lainnya dapat mencontoh Museum Macan maupun Museum Angkut yang sudah sukses menarik generasi milenial. “Selain itu, untuk pengelolaannya dapat juga dibentuk Badan Layanan Umum (BLU) sehingga museum dapat semakin berkembang mengikuti berkembangan zaman” jelasnya.

Koordinasi Antar Kementerian

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memiliki perhatian yang sangat dalam terhadap pengelolaan museum di Indonesia.

Menurut Asisten Deputi Warisan Budaya Kemenko PMK Pamuji Lestari. Museum bukan hanya milik generasi zaman dahulu, tetapi juga milik generasi sekarang dan juga generasi masa depan.

“Generasi milenial yang cinta dengan museum merupakan cerminan dari implementasi revolusi mental sehingga warisan kebudayaan asli Indonesia dapat semakin dilestarikan dan juga menguatkan jati diri dan karakter bangsa” jelas Tari.

Selain itu, menurut Tari, Kemenko PMK terus mendorong implementasi gerakan cinta museum. “Sesuai fungsi PMK, kita mendorong adanya edaran untuk gerakan cinta museum. Edaran ini penting karena dengan edaran ini, gerakan cinta museum dapat dengan lebih masif bergerak dan juga menciptakan multiplier effect baik untuk guru, siswa, dan juga museumnya” ujar Tari.

Kemenko PMK terus berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementeria Pariwisata untuk semakin mendongkrak kunjungan generasi milenial ke museum.

“Kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat karena akses ke museum harus didorong oleh mereka. Di PMK sudah ada direktur perencanaan kawasan strategis yang dapat berkoordinasi dengan baik “jelasnya.

Fitra Arda Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan selain pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian maupun lembaga lainnya, perubahan pola pikir pengelola museum merupakan hal penting sehingga museum dapat terus mengikuti perkembangan di era digital sehingga dapat menarik generasi milenial.

“Salah satunya kita melibatkan komunitas dan profesional untuk mengelola seluruh kegiatan museum sehingga program-program yang dibuat sesuai dengan zamannya yang saat ini kita arahkan ke geneasi milenial” jelasnya.

Menciptakan Tren Berkunjung Ke Museum di Generasi Milenial

Kunjungan ke museum harus dijadikan tren wisata di kalangan generasi milenial. Pertanyaannya Bagaimana? Apalagi saat ini kunjungan generasi milenial ke pusat perbelanjaan lebih tinggi daripada ke museum.

“Pengelola museum harus mampu beradaptasi dengan situasi terbaru khususnya terkait dengan keterbukaan informasi dan pemanfaatan teknologi digital maupun media sosial sehingga dapat menarik generasi milenial untuk berkunjung ke museum” ujar Prof. Wiendu Nuryanti, Ph.d Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut Wiendu, Milenial merupakan generasi yang powerful karena memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menjadi trend setter. “Keunggulan ini harus benar-benar diperhatikan dan dimanfaatkan oleh pengelola museum. Inilah salah satu kunci menarik kunjungan generasi milenial ke museum” ungkapnya.