Rembuk Nasional Kemandirian Ekonomi: Cahyono, Warga Desa Karanggeneng Jateng, Sejahtera karena PLTU Batang

27 Oktober 2018  |  20:29 WIB
Cahyono, Warga Desa Karanggeneng Jateng, Sejahtera karena PLTU Batang/Bisnis-Deandra Syarizka

Bisnis.com, MANADO --Pembangunan infrastruktur yang menjadi program prioritas pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah membawa dampak positif dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat.

Salah satunya dialami langsung oleh Cahyono, warga Desa Karanggeneng, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia terdampak pembangunan PLTU Batang yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).

Cahyono menuturkan, sejak awal dirinya mendukung rencana pembangunan megaproyek senilai US4,2 miliar tersebut .

Sebelum adanya proyek PLTU Batang, dia merantau ke Jakarta untuk menjadi pekerja konveksi akibat sempitnya lapangan pekerjaan di desa. Saat tahu ada pembangunan PLTU Batang pada 2010, dia pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Cahyono mengajak warga desa mendirikan Koperasi Simpan Pinjam. Dua tahun berjalan, asetnya mencapai Rp2,8 miliar./Bisnis-Dendra Syarizka

"Sejak awal saya yakin program pemerintah itu pasti terlaksana. Harapannya ke depan buat anak cucu semoga perekonomiannya lebih baik," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Infrastruktur", Sabtu (27/10/2018).

Diskusi tersebut dilaksanakan dalam rangka Rembuk Nasional bertajuk Kemandirian Ekonomi Untuk Indonesia Maju, yang merupakan bagian dari rangkaian acara Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental yang berlangsung sejak Jumat (26/10) hingga Minggu (28/10).

Turut hadir dalam diskusi tersebut sebagai pembicara Deputi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo, serta Johnson W. Sutjipto selaku pengusaha pelayaran.

Cahyono melanjutkan, saat adanya sosialisasi PLTU Batang dari PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), pihaknya mendapatkan pengadaan mesin jahit sebagai bagian dari dana tanggung jawab sosial perseroan.

Mesin jahit itu pun dia gunakan untuk mendirikan kelompok usaha di bidang konveksi bersama warga lainnya. Berbekal pengalamannya di Jakarta, dia melatih sendiri tetangganya yang bergabung dalam kelompok usaha tersebut.

"Waktu pembebasan lahan memang agak lama, alot. Perlahan tapi pasti mulai berjalan. Sekarang setelah konstruksi banyak yang buka lapangan kerja, buka katering, laundry, dan banyak yang bekerja di BPI," ujarnya.

Selain mendapatkan mesin jahit, dia pun mendapatkan hibah berupa dana dari BPI yang digunakan sebagai penyertaan modal untuk mendirikan koperasi simpan pinjam bersama 29 warga desa lainnya. Alhasil, terkumpul modal awal sebesar total Rp55 juta.

Dua tahun berjalan, modal awal tersebut berkembang hingga kini koperasi simpan pinjam tersebut memiliki aset senilai Rp2,8 miliar.

Di samping mendapatkan hibah dan dana tanggung jawab sosial, Cahyono menyatakan orang tuanya juga mendapatkan pembayaran yang pantas atas lahan sawah yang dibebaskan.

Dia menyebutkan hasil penjualan lahan sawah orang tuanya seluas 3.000 meter persegi telah dibelikan lahan sawah di lokasi berbeda yang tak terkena pembangunan proyek, tak jauh dari perkampungannya.

"Tanahnya dibayar di atas NJOP [Nilai Jual Objek Pajak]. Kalau sesuai NJOP dibayar Rp30.000 per meter, ini dibayar Rp100.000 per meter. Ibaratnya [uangnya] dibelikan tanah luas dua kalinya, masih ada sisa uang," ujarnya.

Lebih lanjut, pria yang kini bekerja sebagai supervisor di PT BPI ini berharap pembangunan PLTU yang digadang-gadang menjadi PLTU terbesar se-Asean ini dapat berjalan sesuai rencana dan terus menyejahterakan kehidupan masyarakat.