Pelopor Incinerator Wujudkan Aksi untuk Indonesia Bersih

29 Oktober 2018  |  16:23 WIB

Manado (27/10). Permasalahan sampah di Indonesia bukan menjadi hal yang baru. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SIPSN KLHK) untuk wilayah metropolitan DKI Jakarta saja pada periode 2017 – 2018 ditemukan ada sekitar 11,679 ton/ hari sampah ditimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) dan 267 ton/ hari diantaranya tidak terkelola secara baik.

Faktanya, selama ini penanganan sampah hanya memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya atau ditimbun di TPA tanpa ada penyelesaian. Di samping itu, perilaku masyarakat juga memperparah kondisi lingkungan dengan membuang sampah di sembarang tempat sehingga mengakibatkan bencana seperti banjir ataupun penyakit menular lainnya.

Keprihatinan terhadap situasi ini, mendorong Siswanto Hartoyo, pria kelahiran Cirebon, untuk menemukan alternatif solusi sampah di Indonesia. Siswanto menyadari bahwa untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih baik, salah satu indikatornya adalah kebersihan lingkungan yang ditinggali oleh masyarakat. 

“Saya risih dengan sampah berserakan. Lingkungan yang kotor akan menimbulkan efek domino bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai seorang engineer, Siswanto menekankan akan metode pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, mudah digunakan, cepat, serta dengan biaya yang tergolong ringan. Di tahun 2015, Siswanto mengembangkan produk pemusnah dan pengelola sampah bernama incinerator. Incinerator dapat memproses sampah campuran (basah, kering, organik, dan anorganik) sekaligus secara efisien. Terobosan Siswanto ini disambut baik oleh Kementerian Bidang Koordinator Kemaritiman (Kemenko Kemaritiman) yang sebagaimana diatur oleh Inpres No.12/2016 merupakan koordinator revolusi mental untuk Gerakan Indonesia Bersih.

Berselang 3 (tiga) tahun kemudian dari pengembangan awalnya yaitu Incinerator Sis-03, Siswanto menjalin kolaborasi dengan Politeknik Negeri Indramayu (POLINDRA) dan Universitas Swadaya Gunung Jati (Unsgawati), menciptakan Incinerator Sis-05.

Dari hasil pembakaran sampah domestik menggunakan Incinerator Sis-04 dan Sis-05, menghasilkan produk turunan seperti pupuk organik cair, cairan pengusir hama, serta batako/ paving block. Hingga saat ini, ada 5 (lima) wilayah yang sudah memasang incinerator diantaranya: desa di Kabupaten Cirebon, Desa Karangampel – Kabupaten Indramayu, Sektor 8 Citarum – Bandung, Jati Luhur – Purwakarta, Kecamatan Silai – Palu, dan segera akan dipasang di Gili Trawangan dan Labuan Bajo.

Disinggung mengenai evaluasi Gerakan Indonesia Bersih selama ini, Siswanto berpesan, “Segera lakukan terobosan-terobosan, tidak hanya teori tapi aksi nyata“. Siswanto juga menggarisbawahi bahwa keteladanan akan perilaku bersih juga menjadi salah satu cara memupuk perubahan mental masyarakat. “Hilangkan dulu kepentingan pribadi,” tambahnya lagi.

Nyoman Shuida, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK, menanggapi senada pernyataan Siswanto mengenai keteladanan yang harus dimiliki oleh masing-masing individu. Nyoman menuturkan, “Budaya bersih itu dimulai dari diri sendiri. Dengan demikian secara perlahan akan mendorong perubahan yang lebih besar untuk Indonesia yang lebih baik.”